CLICK HERE FOR FREE BLOGGER TEMPLATES, LINK BUTTONS AND MORE! »

Monday, January 16, 2017

Perbedaan Agama Di Indonesia

Perbedaan Agama di Indonesia
      Indonesia terdiri atas beragam agama, etnis, dan budaya. Dari masa lalu hingga sekarang demikianlah kondisi Indonesia. Indonesia itu bukan hanya terdiri atas satu jenis etnis, agama, atau budaya jadi tidak bisa dipaksakan Indonesia harus menjadi satu. Kondisi keberagaman yang ada mendasari semboyan Bhinneka Tunggal Ika yaitu berbeda-beda tetapi satu yaitu Indonesia. Indonesia akan kuat apabila bersatu namun sepertinya hampir setiap hari masih terjadi pergesekan-pergesekan akibat perbedaan-perbedaan yang ada terutama perbedaan agama.
      Di Indonesia perbedaan agama seringkali digunakan sebagai komoditi untuk kepentingan politik, ekonomi, pendidikan, dan sosial. Bahasa awamnya adalah sedikit-sedikit terjadi perbedaan, ujung-ujungnya ditanya dan dibahas tentang agama yang dianut. Kalau kondisi demikian selalu terjadi dan terulang, akan sulit negara lndonesia maju dan damai dengan slogan toleransi beragama yang benar-benar diterapkan bukan hanya formalitas. Seolah-olah negara Indonesia dan warganya tidak pernah belajar lebih baik dari sejarah masa lalu negaranya.
      Kembali ke risiko pergesekan dan konflik perbedaan agama. Risiko Indonesia mengalami konflik besar karena hazard nya secara nyata ada. Tidak hanya satu agama yang ada di Indonesia, tidak hanya satu agama yang dianut warga negara Indonesia. Mau memaksakan semua warga negara menganut satu agama jelas tidak boleh karena berkaitan dengan keyakinan kebatinan setiap orang dengan sang Pencipta. Hazard secara objektif ada dan seperti kondisi di negara-negara lain. Namun yang membedakan adalah vulnerability.
      Vulnerability negara Indonesia termasuk tinggi. Banyak bukti pemerintah tidak tegas dalam menerapkan penghormatan kehidupan beragama. Selain itu warga negara Indonesia juga belum sepenuhnya menghormati perbedaan agama yang ada. Di setiap agama mengajarkan agamanyalah yang paling benar namun sudah diajarkan tentang pentingnya penghormatan terhadap ajaran atau agama yang dianut orang lain. Pemerintah yang belum sepenuhnya baik dalam menjaga keharmonisan kehidupan beragama dan warga negara yang masih intoleran membuat vulnerability tinggi.
       Ketika terjadi pergesekan atau konflik antar agama, selalu muncul statement bahwa ada pihak-pihak yang memanasi, merusak, atau sengaja memancing di air keruh yang tidak suka dengan kedamaian dan kerukunan beragama di Indonesia. Kebiasaan seperti ini menggambarkan atribusi eksternal untuk terjadinya penyebab konflik atau dengan kata lain meletakkan tanggungjawab pada pihak lain. Kapankah kita akan mengeluarkan statement bahwa penyebab konflik atau pergesekan agama karena faktor warga negara dan pemerintah yang memang belum menerapkan dengan baik prinsip penghormatan dan pengakuan perbedaan agama yang menunjukkan atribusi internal. Pengakuan faktor penyebab internal akan membuat kita lebih mudah melakukan refleksi dan perubahan perilaku. Dengan adanya penghormatan dan pengakuan terhadap perbedaan agama maka vulnerability juga akan berkurang.
       Perbedaan agama menjadi risiko terbesar terjadinya pergesekan. Dengan seringnya terjadi pergesekan akibat perbedaan agama, fokus pembangunan bangsa menjadi kurang optimal karena energi berkurang untuk mengurus hal tersebut.
      Agama merupakan institusi penting yang mengatur kehidupan manusia. Istilah agama yang dikenal masyarakat merupakan terjemahan dari kata religion yang berarti mengikat. Menurut Emanuel Kant, agama adalah perasaan berkewajiban melaksanakan perintah-perintah Tuhan. Agama tidak terbatas perasaan, tetapi juga ibadah atau amaliah. Menurut Emile Burnaof, agama merupakan amaliah akal manusia yang mengakui adanya kekuatan Yang Maha tinggi dan amaliah hati manusia yang memohon rahmat dari kekuatan tersebut.
      Ada pula yang mengartikan bahwa agama adalah suatu sistem terpadu yang terdiri atas kepercayaan dan praktik yang berhubungan dengan hal-hal suci. Kepercayaan tersebut mempersatukan semua orang yang beriman ke dalam suatu komunitas moral yang dinamakan umat. Seseorang memeluk suatu agama sifatnya tidak rasional. Manusia pada prinsipnya adalah makhluk yang mempunyai rasa kagum terhadap sesuatu yang gaib. Sikap tersebut mampu menggetarkan jiwa jika manusia mengingatnya. Hal ini terwujud dalam pikiran dan gagasan yang diterapkan dalam bentuk peribadatan.
      Colhoun, Light, dan Keller memberikan rambu-rambu tentang agama sehingga berbeda dengan kepercayaan, yaitu sebagai berikut.
Ø  Kepercayaan agama dilandasi oleh getaran jiwa (emosi keagamaan) yang menyebabkan manusia mempercayai atau meng anut suatu agama atau kepercayaan. Dalam hal ini, manusia mulai memercayai hal-hal gaib, seperti Tuhan, Dewa, makhluk halus, dan kekuatan sakti. Misalnya, umat Islam percaya kepada Allah Yang Maha Esa dan malaikat-malaikatnya. Umat Nasrani percaya kepada Tuhan Yesus, Bapa di Surga, Bunda Maria, dan Roh Kudus.
Ø  Simbol agama yaitu lambang-lambang dalam keagamaan sehingga menunjukkan identitas suatu agama. Simbol tersebut biasanya berwujud tempat peribadatan, pakaian, benda-benda lain yang berhubungan dengan agamanya. Misalnya, wanita muslim mengenakan jilbab dalam berpakaian.
Ø  Praktik keagamaan yang dilakukan menurut tata kelakuan baku disebut beribadat atau upacara keagamaan atau ritual. Setiap praktik keagamaan ditunjang oleh empat komponen, yaitu sebagai berikut.
           Sesuai dengan agama dan kepercayaan nya, tempat beribadat keagamaan terdiri atas berbagai bentuk, seperti bangunan, pohon, batu, tempat-tempat keramat, dan sebagainya. Lokasinya bisa di dalam rumah atau bagian tertentu dari rumah, di sekitar rumah atau jauh dari pemukiman, seperti di gunung, pantai, goa, dan sebagainya. Contohnya, umat Islam melakukan ibadah salat di Masjid, umat Nasrani di gereja, umat Hindu di pura, umat Buddha di vihara, dan sebagainya.
      Waktu praktik terdiri atas ibadah rutin (waktunya ditentukan atau dilaksanakan secara berkala, seperti harian, mingguan, tahunan). Contohnya, umat Islam melaksanakan salat wajib  lima kali dalam sehari, umat Nasrani beribadat di gereja setiap hari Minggu, umat Buddha sembahyang waktu pagi dan sore hari. Ibadah insidental (dilaksanakan apabila dianggap perlu), contohnya umat Islam melakukan salat Istisqo pada waktu kemarau panjang.
      Sarana atau prasarana keagamaan ialah segala bentuk peralatan yang digunakan dalam praktik keagamaan dengan tujuan demi lancarnya pelaksanaan ibadah. Umat beragama atau komunitas beragama merupakan pengelompokan pada komunitas agama yang pada umumnya didasari oleh ideologi atau paham keagamaan setiap penganutnya.
      Kitab suci merupakan doktrin agama yang berisi ajaran-ajaran pokok yang bersumber dari Tuhan yang disampaikan kepada umat manusia melalui utusannya. Misalnya, kitab suci Al-Quran dan hadist bagi umat Islam, umat Kristiani dalam Alkitab atau Injil bagi umat Kristiani, Tripitaka bagi umat Buddha, Weda bagi umat Hindu, dan sebagainya.
      Setiap manusia dalam memeluk agama dan kepercayaannya masing-masing didasarkan pada beberapa alasan, seperti:
§  sarana meditasi agar mendapatkan ketenangan hidup;
§  mengakui adanya sesuatu yang lebih tinggi dari dirinya;
§  doktrin orangtua, yang menginginkan agar agama yang dianut nya dapat pula oleh anak dan keturunannya;
§  pengaruh lingkungan, baik di keluarga maupun masyarakat.

          Kebutuhan batin Primordial dapat berarti mula-mula, pokok, pertama, kesetiaan terhadap unsur-unsur yang diperoleh dalam sosialisasi sejak dilahirkan. Primordialisme merupakan pengelompokan manusia yang dilandasi dengan kesetiaan terhadap unsur-unsur yang diperoleh dalam sosialisasi sejak lahir, berupa unsurunsur pokok dalam kehidupan manusia. Dalam masyarakat yang menunjukkan primordialisme agama, misalnya adanya sejumlah orang yang saling berhubungan secara teratur dalam kehidupan keagamaan. Primordialisme dalam masyarakat umumnya dilandasi oleh beberapa faktor, seperti keyakinan ideologi, adanya kepentingan pribadi atau golongan, keturunan darah, dan kesamaan daerah.
          Bangsa Indonesia adalah bangsa yang beragama dan mereka sepenuhnya percaya terhadap Tuhan Yang Maha Esa sesuai dengan agama dan kepercayaannya masing-masing. Kepercayaan dan ketakwaan terhadap Tuhan Yang Maha Esa adalah hak azasi manusia yang paling pokok sehingga satu sama lain mengakui dan menghormati agama-agama yang dianut. Pengakuan terhadap agama menunjukkan tindakan yang adil terhadap diri sendiri dan terhadap orang lain sebagai pemeluk agama yang berbeda dengan yang kita anut.
       Adanya kerukunan beragama akan menumbuhkan sikap toleransi di antara warga negara. Sikap ini telah ada semenjak dahulu yang tertulis dalam buku Sutasoma karya Mpu Tantular.
Dalam buku tersebut tertulis kata-kata Bhineka Tunggal Ika Tan Hana Dharma Mangra, yang artinya walaupun berbeda satu jua adanya sebab tidak ada tujuan agama yang berbeda. Oleh karena itu, membina dan mengembangkan sikap hormat-menghormati pemeluk agama merupakan kewajiban kita sebagai warga negara Indonesia.

      Semoga konflik-konflik yang disebabkan perbedaan agama di Indonesia makin berkurang dan Indonesia menjadi harmonis dengan keberagamannya. Dengan demikian Indonesia menjadi tempat tinggal yang nyaman dan aman bagi setiap warga negaranya mulai lahir hingga menutup mata seperti syair lagu Indonesia Pusaka.

No comments:

Post a Comment